LAPORAN
PRAKTIKUM
MANAJEMEN KESEHATAN IKAN

Oleh:
xxxxxxxxxxxxxxx
NIM. L1B0150xxx
KEMENTRIAN
RISET TEKNOLOGI & PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
ACARA
I. VAKSINASI IKAN

Oleh:
xxxxxxxxxx
NIM. L1B0150xxx
KEMENTRIAN
RISET TEKNOLOGI & PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu kendala yang dapat menimbulkan
hambatan yang berarti bagi peningkatan produksi budidaya perikanan adalah serangan
hama dan penyakit. Penanggulangan penyakit dengan obat-obatan dan antibiotika
efektif apabila penggunaannya tepat dan tidak terlalu lama. Pemakaian yang
terus-menerusakan menimbulkan dampak negatif, baik pada ikan, lingkungan,
maupun konsumen (Mulia et. al.,
2007). Vaksinasi merupakan cara efektif dalam upaya penanggulangan penyakit
pada ikan (Ellis 1988 dalam Nur et. al.,
2004). Vaksinasi dapat meningkatkan kekebalan pada tubuhi kan terhadap serangan
penyakit tertentu selama beberapa waktu, sehingga angka kematian dapat
diminimalisir sekecil mungkin (Nur et.
al., 2004). Vaksin berasal dari suatu jasad patogen yang telah dilemahkan
atau dimatikan yang bertujuan untuk meningkatkan pertahanan ikan atau untuk
menimbulkan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu (Utomo, 2001).
Selama ini, pengendalian penyakit pada
budidaya ikan lebih mengandalkan pada penggunaan bahan kimia/obat/antibiotik
yang sejatinya memiliki dampak
negatif; baik terhadap lingkungan perairan, ikan, maupun konsumen. Strategi
pencegahan penyakit ikan yang sudah diyakini cukup efektif adalah melalui
vaksinasi. Program vaksinasi pada perikanan budidaya mampu menurunkan tingkat
mortalitas akibat infeksi patogen potensial, mengurangi penggunaan antibiotik,
dan meminimumkan munculnya resistensi patogen terhadap antibiotik (Taukhid et al., 2014).
Berdasarkan masalah tersebut maka perlu
ditentukan solusi terbaik untuk mencegah infeksi penyakit ikan. Salah satunya
adalah dengan melakukan vaksinasi. Pada praktikum ini bertujuan untuk mengembangkan
materi pengendali penyakit ikan dalam bentuk vaksin yang imunogenik dan
protektif, serta memenuhi standar quality, safety, dan efficacy (QSE).
1.2.Tujuan
a.
Peserta mampu
menjelaskan fungsi dan peran vaksinasi dalam pencegahan penyakit inveksi ikan
b.
Peserta mampu
menjelaskan jenis – jenis vaksin untuk ikan
c.
Peserta mampu
menjelaskan metode vaksinasi
d.
Peserta dapat
menguraikan cara pembuatan vaksin whole cell dari bakteri pathogen
e.
Peserta dapat
menguraikan cara pemberian vaksin pada ikan
f.
Perserta dapat
menguraikan cara mengetahui keberhasilan vaksinasi pada ikan
BAB
II. MATERI DAN METODE
2.1. Materi
2.1.1. Alat
Alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah timbangan,
kompor listrik, erlenmeyer, tabung reaksi, petridish,
autoclave, jarum ose, lampu bunsen,
tabung sentrifige, alat sentrifugasi, mikropipet, alat injeksi, akuarium,
container, aerator, selang, tabung 1,5 ml, microtiter
plate, inkubator.
2.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan pada
praktikum ini adalah ikan Lele (Clarias batrachus), TSA 6 gram, TSB 4,5 gram, GSP 6,75 gram, aquadest,
PBS, isolat bakteri, formalin 2%, pakan ikan, sampel darah ikan, serum darah
ikan.
2.2. Metode
2.2.1. Kultur bakteri
Alat dan bahan yang steril disiapkan. Area kerja
disterilkan. Nyalakan lampu bunsen. Se-ose bakteri diambil dari kultur stok dan
diinokulasikan pada media TSA dan GSP dalam petridish. Kultur bakteri
diinkubasi selama 18 jam. Area kerja disterilkan. Nyalakan lampu bunsen .
Se-ose bakteri dari media TSA diambil dan dipindahkan ke media TSB dalam tabung
reaksi dan diinkubasi selama 18 jam
2.2.2. Pembuatan Vaksin
Kultur bakteri (TSB) dipindahkan ke dalam tabung Erlenmeyer 50 ml dan
ditambahkan formalin 2% lalu diinkubasi semalam. Sejumlah volume bakteri
dipindahkan ke dalam tabung sentrifuge dan disentrifugasi selama 5 menit.
Diulangi untuk seluruh volume suspense bakteri. Ditambahkan PBS pada pellet
bakteri sehingga volume total sama dengan volume sebelumnya. Suspensi bakteri
disuspensi selama 5 menit, PBS dibuang, bakteri diresuspensi dengan PBS baru.
Tahap pencucian diulang sebanyak 3 kali. Vaksin disimpan pada suhu 40C
sampai digunakan.
2.2.3. Pencucian Vaksin
Bakteri-bakteri di resuspensi dengan menambahkan larutan
PBS atau fisiologis pada pelet bakteri sehingga volume total sama dengan volume
sebelumnya, kemudian dilakukan homogenisasi selama 1 menit menggunakan vorteks.
Sentrifugasi suspensi bakteri selama 3 menit dan supernatan dibuang. Tahap
tersebut diulangi sebanyak 3 kali lalu vaksin disimpan pada suhu 4 40C sampai digunakan.
2.2.4. Pemberian Vaksin
Sediaan vaksin diencerkan. Vaksin diambil
dengan menggunakan alat suntik (1 ml). Diinjeksikan pada ikan sebanyak
0,1 ml/ekor. Untuk kelompok control diinjeksi ikan dengan PBS bervolume 0,1
ml/ekor. Ikan dipelihara selama 7 hari.
2.2.5. Sampling Darah Ikan Uji
Setelah ikan dibius , sampel darah ikan diambil dengan memotong pangkal
ekor, kemudian darah ditampung pada tabung 1,5 ml dan didiamkan pada suhu rung
terpisah, setelah itu disentrifugasi selama 5 menit dan serum yang sudah terbentuk
diambil dan ditampung pada 1,5 ml yang baru.
2.2.6. Uji Titter Antibodi ( dibuat paragraph )
Sampel darah ikan diambil. Darah ikan ditampung pada tabung 1,5 ml dan
didiamkan pada suhu ruang hingga terpisah antara sel dan serum. Sampel darah
disentrifugasi selama 5 menit. Serum darah diambil dan ditampung pada tabung
1,5 ml yang baru. Mikrotiter plate disiapkan. 25µl PBS dimasukkan kedalam
sumuran no. 2 – 12. Serum sebanyak 25µl dimasukkan kedalam sumuran no. 1 dan 2.
Larutan dihomogenkan di sumuran no.2 dengan pipetting sebanyak 5 kali. Larutan
sebanyak 25µl dari sumuran no. 2 diambil dan dimasukkan ke sumuran no.3 dan
dihomogenkan. Prosedur ini dilakukan sampai dengan sumuran no. 11. Larutan 25µl
dari sumuran no. 11 dibuang. Suspensi vaksin 25µl dimasukkan ke dalam setiap
sumuran. Mikrotiter plate ditutup dengan plastic dan diinkubasi semalam dengan
suhu 40C. Aglutinasi yang terjadi diamati.
BAB
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1.Hasil
Tabel 1. Hasil Uji Titter
Antibodi
|
Perlakuan
|
Aglutinasi
|
Gambar
|
|
Vaksin
Gr Og Nila
|
Sumuran 1-2 Positif Sumuran 3-11 Negatif
Sumuran 12
Kontrol
(-)
|
![]() |
1.2.Pembahasan
Limfosit memiliki nucleus besar bulat
dengan menempati sebagian besar sel limfosit berkembang dalam jaringan limfe.
Ukuran bervariasi dari 7 sampai dengan 15 mikron. Banyaknya 20-25% dan
fungsinya membunuh dan memakan bakteri masuk ke dalam jaringan tubuh. Limfosit
ada 2 macam, yaitu limfosit T dan limfosit B (Handayani dan Haribowo, 2008) .
Sistem imun tubuh terdiri atas dua komponen utama,
yaitu limfosit B dan limfosit T. Sel B bertanggung jawab atas sintesis antibodi
humoral yang bersirkulasi yang dikenal dengan nama imunoglobulin. Sel T
terlibat dalam berbagai proses imunologik yang diperantarai oleh sel.
Imunoglobulin plasma merupakan imunoglobulin yang disintesis di dalam sel
plasma. Sel plasma merupakan sel khusus turunan sel B yang menyintesis dan
menyekresikan imonoglo-bulin ke dalam plasma sebagai respon terhadap pajanan
berbagai macam antigen (Whitfield dkk., 2003).
BAB IV. KESIMPULAN DAN
SARAN
4.1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang
dapat dari praktikum, dapat ditarik kesimpulkan bahwa :
1.
Vaksin adalah suatu antigen yang biasanya berasal dari suatu jasad
patogen yang telah dilemahkan atau dimatikan, dengan tujuan untuk meningkatkan
daya tahan (kekebalan) ikan atau menimbulkan kekebalan aktif terhadap suatu
penyakit tertentu.
2.
Tahapan pembuatan vaksin meliputi kultur bakteri, pembuatan vaksin dari bakteri Aeromonas hidrophilla yang dinonaktifkan dengan perendaman formalin
2%, pemberian vaksin dengan dosis 0,1 ml/ikan dan uji titer antibodi.
3.
Pengujian titer antibodi perlakuan vaksin menunjukkan bahwa perlakuan
tersebut terjadi aglutinasi positif dari sumuran ke-1 sampai sumuran ke-7 dan untuk
sumuran ke-8 sampai sumuran ke-12 terjadi aglutinasi negative.
4.2. Saran
Sebaiknya pada saat praktikum praktikan
mengikuti dan memperhatikan rangkaian acara praktikum dengan disiplin, serta
sebaiknya alat-alat praktikum ditambah agar praktikan tidak perlu menunggu lama
untuk bergantian dalam menggunakan alat.
Daftar Pustaka
Handayani, W dan Haribowo, A.S 2008. “Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada
Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi”. Salemba medika: Jakarta.
Mulia, Dini
S. dan Cahyono P. 2007. Perbandingan
Efikasi Vaksin Produk Intra- dan Ekstraseluler Aeromonas hydrophila untuk Menanggulangi Penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) pada Lele Dumbo (Clarias sp.). Jurnal
Perikanan (J. Fish. Sci.). 9 (2):
173-181
Nur, Sukenda,
dan D. Dana. 2004. Ketahanan Benih Ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus Linn.) dari Hasil Induk yang Diberi Vaksin
terhadap Infeksi Buatan Streptococcus
iniae. Jurnal Akuakultur Indonesia.
3(1): 37-43
Taukhid, Lusiastuti, A.M., Sumiati,
T. 2014. Aplikasi Vaksin Streptococcus
agalactiae Untuk Pencegahan Penyakit Streptococcosis
Pada Budidaya Ikan Nila (Oreochromis
niloticus). Berita Biologi, 13(3) : 245 - 253.
Utomo, Y. E.
2001.Uji Lapang Vaksin Aeromonas
hydrophila Terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio) Melalui Pakan Pelet Bervaksin.
Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.Institut
Pertanian Bogor. Bogor. 56 hal.
ACARA
II. PENGAMATAN JENIS LEUKOSIT

Oleh:
Urfa Hizbul
Hanif
NIM. L1B015054
KEMENTRIAN
RISET TEKNOLOGI & PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Leukosit
adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih. Rata-rata
jumlah leukosit dalam darah manusia normal adalah 5000-9000/mm3, bila jumlahnya lebih dari 10.000/mm3, keadaan ini disebut leukositosis,
bila kurang dari 5000/mm3 (Effendi, Z., 2003).
Leukosit terdiri dari dua golongan
utama, yaitu agranular dan granular. Leukosit agranular mempunyai sitoplasma
yang tampak homogen, dan intinya berbentuk bulat atau berbentuk ginjal.
Leukosit granular mengandung granula spesifik (yang dalam keadaan hidup berupa
tetesan setengah cair) dalam sitoplasmanya dan mempunyai inti yang
memperlihatkan banyak variasi dalam bentuknya. Terdapat 2 jenis leukosit
agranular yaitu; limfosit yang terdiri dari sel-sel kecil dengan sitoplasma
sedikit, dan monosit yang terdiri dari sel-sel yang agak besar dan mengandung
sitoplasma lebih banyak. Terdapat 3 jenis leukosit granular yaitu neutrofil,
basofil, dan asidofil / eosinofil
(Effendi, Z., 2003).
1.2.Tujuan
Tujuan praktikum acara pengamatan jenis leukosit adalah :
1.
Mahasiswa dapat menjelaskan cara mengamati jenis-jenis leukosit pada ikan.
2.
Mahasiswa dapat menunjukan jenis-jenis leukosit pada ikan.
BAB
II. MATERI DAN METODE
2.1. Materi
2.1.1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum
ini adalah kaca preparat,cover glass,
mikroskop dan pipet tetes.
2.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum
ini adalah darah ikan lele (Clarias batrachus), methanol, pewarna giemsa, air kran dan minyak imersi
2.2. Metode
2.2.1. Cara Kerja
Ikan dibius dan kaca preparat
dibersihkan menggunakan ethanol, darah ikan diambil dengn memotong pangkal
ekor, sampel darah diletakan disepanjang sisi cover lalu dorong sepanjang kaca
preparat, sampel darah dibiarkan sampai mengering dalam suhu ruang, genangi
sampel darah dengn ethanol dibiarkan selama3-5 menit, sampel dibiarkan hingga
mengering kembali, selanjutnya genangi sampel dengan pewarna giemsa 10% selam
15-30 menit bilas dengan air mengalir, setelah sampel mengering dalam suhu
ruang kemudian amti sampel dibawah mikroskop pada perbesaran 400x. dan untuk
perbesaran 1000x digunakan minyak imersi. Ambil gambar jenis-jenis darah yang
ditemukan.
BAB
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.. Hasil

Gambar 1. Sel Darah
3.2.Pembahasan
1.
Lemfosit


Gambar 2.. Lemfosit pada ikan lele Gambar
3. Lemfosit pada ikan gurame
Limfosit memiliki
nucleus besar bulat dengan menempati sebagian besar sel limfosit berkembang
dalam jaringan limfe. Ukuran bervariasi dari 7 sampai dengan 15 mikron.
Banyaknya 20-25% dan fungsinya membunuh dan memakan bakteri masuk ke dalam
jaringan tubuh. Limfosit ada 2 macam, yaitu limfosit T dan limfosit B
(Handayani dan Haribowo, 2008) .
Sistem imun tubuh
terdiri atas dua komponen utama, yaitu limfosit B dan limfosit T. Sel B
bertanggung jawab atas sintesis antibodi humoral yang bersirkulasi yang dikenal
dengan nama imunoglobulin. Sel T terlibat dalam berbagai proses imunologik yang
diperantarai oleh sel. Imunoglobulin plasma merupakan imunoglobulin yang
disintesis di dalam sel plasma. Sel plasma merupakan sel khusus turunan sel B
yang menyintesis dan menyekresikan imonoglo-bulin ke dalam plasma sebagai
respon terhadap pajanan berbagai macam antigen (Whitfield dkk., 2003).
1.
Monosit
![]() |
![]() |
Monosit
Gambar 2..
Lemfosit
pada ikan lele Gambar 3. Lemfosit
pada ikan gurame
Monosit berperan sebagai makrofag dan
banyak dijumpai pada daerah peradangan atau infeksi. Monosit bersama makrofag
jaringan setempat akan memfagositosis sisa-sisa jaringan dan agen penyebab
penyakit. Monosit pada ikan memiliki morfologi hampir sama dengan monosit pada
mamalia, berbentuk oval atau bundar, berdiameter antara 8 – 15 um. Inti
berbentuk oval, terletak mendekati tepi sel dan mengisi sebagian isi sel.
Kadang-kadang inti monosit juga terletak di tengah. Persentase monosit di dalam
darah ikan sekitar 0.1 % dari total populasi leukosit yang bersirkulasi (Erika,
2008).
Monosit merupaka leukosit terbesar
yang biasa disebut dengan makrofag.Monosit ini sendiri berfungsi sebagai
penanda pathogen kepada sel T sehingga pathogen tersebut dapat dikenali dan
dibunuh atau dapat membuat antibodi.Kontak yang dekat antara permukaan limfosit
dan monosit diperlukan untuk respon imunologis yang maksimal. Monosit atau
meningkatnya presentase monosit dapat terjadi akibat penyakit kronis terutama
jika banyak kotoran sel yang harus disingkirkan, misalnya infeksi jamur, radang
granulomatosa dan penyakit tertentu (Preanger et.al.,2016).
BAB IV. KESIMPULAN DAN
SARAN
4.1.
Kesimpulan
1. Leukosit dikelompokkan menjadi 2 golongan berdasarkan ada tidaknya butir
butir (granula) dalam sel, yaitu agranulosit
dan granulosit. Agranulosit dibagi menjadi limfosit, trombosit dan monosit,
sedangkan granulosit berupa neutrophil
2. Leukosit berfungsi untuk
kekebalan tubuh, baik spesifik maupun non-spesifik.
Komponen-komponen
leukosit mempunyai fungsi yang khusus. Secara fungsional, sel monosit berperan
sebagai makrofag, limfosit berfungsi sebagai antibodi untuk melawan antigen,
neutrofil diyakini mempunyai fungsi fagositik dan trombosit berperan dalam
proses pembekuan darah
4.2. Saran
Sebaiknya pada
saat praktikum praktikan mengikuti dan memperhatikan rangkaian acara praktikum
dengan disiplin tidak banyak bercanda, serta sebaiknya alat-alat praktikum
ditambah agar praktikan tidak perlu menunggu lama untuk bergantian dalam
menggunakan alat.




3 Comments
Hãy cùng bạn bè tham gia siêu phẩm MOBA 5v5 để đối đầu với những người chơi khác trên khắp thế giới trong Mobile Legends: Bang Bang! Hãy chọn vị tướng yêu thích của bạn để cùng xây dựng một đội tuyệt vời với những người đồng đội vào sinh ra tử! Ghép đội trong 10 giây, những trận đấu kéo dài 10 phút. Từ đi đường, đi rừng cho đến phá trụ, đọ kĩ năng, cướp quái khủng, chiến đấu cùng đồng đội, tấn công lén lút hay những pha "móc lốp" hoàn hảo,... tất cả những thú vui đó từ những dòng game MOBA, những dòng game hành động trên máy tính bây giờ đều nằm trong bàn tay bạn! Hãy cho mọi người thấy tinh thần eSports nói chung cũng như khả năng chơi game MOBA của bạn nào!
ReplyDeletehttps://downloadaplikasi.info/tebak-gambar-mobile-legends-quiz/download
Line 98 classic là trò chơi giải trí của giới văn phòng mang tính trí tuệ cao với quy tắc chơi vô cùng đơn giản, bạn cần sắp xếp các quả bóng thành một dòng 5 quả sẽ làm chúng nổ và được điểm
ReplyDeleteLink: https://downloadaplikasi.info/lines-98-classic-color-lines/download
Dengan lebih dari 100 efek menarik, jadilah editor foto yang berbakat, buat foto-foto menakjubkan dan emosional. Dengan versi baru kamera 360, penerbit menambahkan kepada pengguna sejumlah fitur utilitas yang luar biasa, metode pengenalan wajah yang cerdas, bersama dengan fitur yang secara otomatis mengubah latar belakang, membawa gambar yang tajam pukulan untuk Anda. Download aplikasi Camera360.
ReplyDeleteDownload aplikasi camera360: https://downloadaplikasi.info/camera360-selfie-photo-editor-with-funny-sticker/download