Siapa yang tidak suka dengan hewan imut dan menggemaskan satu ini yang bernamakelinci.
Memiliki telinga panjang dan tubuh ditutupi dengan rambut lembut
menjadikan hewan yang paling digemari orang orang untuk dipelihara,
selain sebagai hewan hias kelinci juga dapat dijadikan makanan karena
dagingnya yang lezat.
Sekarang
ini terdapat dua jenis peternak kelinci yaitu kelinci hias dan kelinci
potong. Kelinci hias tentu saja hargannya cukup mahal dan memerlukan
perawatan khusus. Kelinci potong hargannya cukup terjangkau dan
perawatannya cukup murah. Namun permasalahan yang timbul oleh para
peternak kelinci yaitu kotoran yang di keluarkan kelinci baik padat
ataupunkotoran cair.
Kelinci dengan
nama latin Lepus curpaeums adalah salah satu hewan yang termasuk dalam
keluarga pengerat yang banyak dipelihara orang karena lucu dan juga ada
yang dimanfaatkan dagingnya sebagai olahan kuliner yang lezat. Selain
dapat dimanfaatkan daging, bulu dan kelucuannya, ternyata semua bagian
kelinci dapat kita manfaatkan, tak terkecuali kotoran (feses) dan air kencing (urine) kelinci itu sendiri.
Kotoran
padat kelinci merupakan kotoran yang susah untuk terurai di lingkungan
ditambah lagi kotoran cair (air kencing) kelinci tidak sedap baunya.
Untuk itu perlu penanggungaan secara tepat agar kotoran tersebut tidak
berdampak kepada kesehatan namun dapan dimanfaatkan
Berdasarkan hasil kajian badan
penelitian ternak (balitak ) pada tahun 2005 menyatakan bahwa kotoran
dan air kencing kelinci dapat dimanfaatkan sebagai pestisida dan pupuk
organik. Hal tersebut dikarenakan kadar nitrogen khususnya pada iar
kencing lebih tinggi dari pada hewan herbifora lainnya . hal tersebut
diikarenakan kelinci jarang minum air dan hanya memakan hijauan saja.
Kandungan kotoran dan air kencing kelinci
• N = 2,72 %
• P = 1,1 %
• K = 0,5 %
Kandungan kotoran dan air kencing kelinci
• N = 2,72 %
• P = 1,1 %
• K = 0,5 %
Jika kotoran padat dan cair ini dipadukan maka pupuk organik ini memiliki kandungan
• Nitrogen = 2,20 %
• Fosfor = 87 %
• Potassium = 2,30 %
• Sulfur = 36 %
• Kalsium = 1,26 %
• Magnesium = 40 %
• Nitrogen = 2,20 %
• Fosfor = 87 %
• Potassium = 2,30 %
• Sulfur = 36 %
• Kalsium = 1,26 %
• Magnesium = 40 %
Sebelum kita dapat menggunakan kotoran dan urine kelinci sebagai pupuk, sebaiknya kita mengolahnya menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Adapun keuntungan penggunaan pupuk cair adalah
lebih hemat dalam penggunaannya, serta lebih mudah diserap oleh akar
tanaman, sehingga efeknya dapat terlihat lebih cepat.
Berikut akan diuraikan beberapa tahapan proses mengolah kotoran kelinci menjadipupuk cair:
Alat dan Bahan:
1. Ember plastik berukuran besar atau jolang
2. Bilahan bambu atau kayu sebagai pengaduk
3. Kotoran kelinci
4. Air bersih
5. Pupuk NPK (jika ada)
1. Ember plastik berukuran besar atau jolang
2. Bilahan bambu atau kayu sebagai pengaduk
3. Kotoran kelinci
4. Air bersih
5. Pupuk NPK (jika ada)
Cara Membuat:
• Siapkan ember atau jolang berukuran besar
• Masukkan kotoran kelinci sampai kurang lebih 60% bagian ember
• Tambahkan air bersih sampai terisi sebanyak 80% bagian ember (jangan terlalu penuh, sebab kotoran yang telah dicampur air akan merekah/mengembang)
• Tambahkan pupuk NPK sebanyak 2 sendok makan (jika ada)
• Aduk-aduk adonan tadi dengan menggunakan bilahan bambu/kayu sampai semuanya tercampur, kemudian tutup dan biarkan semalaman
• Keesokan harinya, buka kembali penutupnya, kemudian aduk-aduk kembali adonan dengan menggunakan bilahan bambu/kayu. Biasanya dalam waktu 2-3 hari adonan sudah mulai mengembang dan berbau. Jika adonan terlalu kental, tambahkan air sedikit demi sedikit, kemudian aduk kembali hingga tercampur rata, kemudian tutup kembali
• Lakukan pengadukan setiap hari selama 2-3 minggu, jika adonan sudah tercampur rata, serta bau busuk sudah berkurang, maka adonan sudah siap digunakan sebagai pupuk
Cara Penggunaan Pupuk:
1. Siapkan ember atau wadah kosong
2. Masukan adonan pupuk secukupnya, dan tambahkan air dengan perbandingan 1:3
3. Aduk-aduk hingga tercampur
4. Gunakan campuran tersebut untuk menyiram tanaman

0 Comments